
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) merupakan suatu lembaga riset pergulaan di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dengan usia lebih dari 124 tahun, yang dahulu bernama Het Proefstation voor de Java Suiker Industrie. Pada waktu didirikan tahun 1887, institusi ini berperan dalam mendukung industri gula di wilayah Hindia Belanda agar mampu memberikan pelayanan kepada stakeholders, penyandang dana dan para pengguna teknologi gula.
Proefstation menjadi kiblat industri gula tebu dunia dengan prestasi spektakuler yang diraih pada tahun 1921 melalui penemuan varietas POJ 2878 yang dapat menyelamatkan industri gula dunia dari serangan penyakit sereh dan pada tahun 1930 melalui penemuan varietas POJ 3016 karena mampu menghasilkan 18 ton gula per hektar.
P3GI menjadi satu-satunya lembaga penelitian di Indonesia yang khusus menel... ![]()
Harga gula yang melonjak dalam 2 bulan belakang ini merupakan refleksi dari pergerakan harga gula dunia. Harga raw sugar saat ini sekitar 24 cent per pound atau kira-kira USD 530 per ton, sementara harga gula putih sekitar USD 604 per ton. Ini merupakan harga gula tertinggi selama hampir 30 tahun terakhir. Pada posisi harga gula dunia seperti itu wajar bila kemudian harga gula di pasar lokal melonjak tajam.
Secara psikologis naiknya harga gula dunia dipicu oleh perubahan posisi India dari eksportir kedua terbesar menjadi importir. Tahun ini India import sekitar 5 juta ton gula. Tampaknya India masih akan menjadi importir hingga 3 tahun ke depan. Kebijakan pemerintah yang menekan harga gula di pasar dalam negeri, serta meningkatkan harga gandum menyebabkan banyak petani India beralih dari tebu ke gandum. Proyeksi area tebu India tahun depan masih sama dengan tahun ini. Artinya kalau tidak ada kenaikan produktivitas yang signifikan, india masih akan tetap menjadi importir gula.
Sementara itu, jagoan gula lainnya Australia juga tidak melakukan ekspansi area. Luas tanaman tebu Australia tahun depan sama dengan tahun 2008, yaitu sekitar 340 ribu ha. Produksi gula Australia tahun depan kemungkinan tidak akan lebih banyak dari sekarang.
Nah, sekarang tinggal posisi sang jawara, Brazil. Brazil memang terus ekspansi area dan diproyeksikan akan memiliki sekitar 25 juta ha tebu pada 2025. Sekarang luas area tebu di Brazil sekitar 8,7 juta ha dan ada 20 PG baru yang siap operasi tahun depan. Namun seiring dengan melambungnya harga minyak bumi, konversi tebu ke etanol tahun depan di Brazil diperkirakan akan bertambah. Sekitar 60% produksi tebu di Brazil akan dijadikan ethanol. Porsi tersebut labih banyak dibanding tahun ini yang hanya 57%. Selain itu, iklim yang terlalu basah akan menjadi kendala bagi peningkatan produktivitas gula. Tentu saja ini menyebabkan produksi gula Brazil tidak akan melonjak signifikan. Kenaikan produksi gula Brazil diperkirakan hanya 4 juta ton saja.
Dengan situasi seperti di atas tampaknya keseimbangan produksi, konsumsi dan stok gula dunia tahun depan tidak akan jauh berbeda dengan sekarang. Karena itu, harga gula dunia pun diperkirakan masih akan tetap tinggi. Kontrak pembelian gula untuk Maret 2010 sekitar USD 606 per ton untuk gula putih dan 24,58 cent per pound untuk raw sugar. Presiden Sugar Imperial, John Shaptor, sebulan lalu dalam pertemuan American Sugar Alliance, mengemukakan bahwa harga gula dunia tahun depan mungkin lebih tinggi dari tahun ini.
Kabar baik ini patut disambut dengan gembira. Karena itu, mari kita kembali bertanam tebu. Dengan perkiraan harga gula dunia tahun depan tetap tinggi, mudah-mudahan rezeki “harga gula” akan membawa berkah bagi semuanya. Amin (Aris Toharisman).
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
(P3GI)
Jalan Pahlawan No 25
Pasuruan 67126
Telp (0343) 421086
Fax (0343) 421178,
![]()
508238 pageviews
logged since November 2005